Pendidikan Karakter: Pondasi Utama Membangun Generasi Emas yang Berakhlak Mulia
Surakarta- Di era yang kian kompetitif, kecerdasan akademik saja tidak cukup untuk menjamin kesuksesan seorang siswa. Prof. Dr. Siti Supeni, Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Solo, menegaskan bahwa Pentingnya pendidikan karakter harus menjadi prioritas utama dalam sistem pendidikan Indonesia. Tanpa fondasi karakter yang kuat, kecerdasan intelektual justru berpotensi menjadi bumerang yang merugikan masa depan generasi muda.

Baca Juga : Wakil Wali Solo Astrid Widayani Dorong UMKM Kuasai Manajemen & Pemasaran
“Kecerdasan otak ibarat pedang bermata dua. Jika dipegang oleh orang yang berkarakter luhur, ia akan menjadi alat untuk membangun peradaban. Sebaliknya, jika dimiliki oleh individu yang lemah moralnya, bisa berubah menjadi senjata yang merusak,” ujar Siti Supeni, yang akrab disapa Prof. Peni, dalam wawancara eksklusif dengan Espos.
Mengapa Pendidikan Karakter Begitu Krusial?
Menurut Prof. Peni, fenomena siswa yang pintar secara akademik tetapi minim empati dan tanggung jawab sosial semakin marak terjadi. Hal ini, lanjutnya, merupakan dampak dari sistem pendidikan yang terlalu berfokus pada nilai-nilai kognitif semata.
“Lihatlah realita di sekitar kita. Banyak anak berprestasi di kelas, tapi tidak peduli pada lingkungannya. Ada yang menjadi koruptor, arogan, atau bahkan memanfaatkan kepintarannya untuk hal negatif. Ini bukti bahwa kecerdasan emosional dan spiritual harus seimbang dengan kecerdasan intelektual,” paparnya.
Pendidikan karakter, tegas Prof. Peni, bertujuan untuk menumbuhkan empati, integritas, dan tanggung jawab sosial.
Peran Agama dan Budi Pekerti dalam Membentuk Karakter
Prof. Peni menekankan bahwa pendidikan agama menjadi dasar utama pembentukan karakter.
“Agama mengajarkan kita untuk rendah hati, jujur, dan peduli. Seorang dokter yang berkarakter, misalnya, tidak akan memanfaatkan profesinya untuk mencari keuntungan pribadi, melainkan mengabdi dengan penuh amanah,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi sekolah-sekolah yang telah menerapkan program pembinaan karakter melalui kegiatan keagamaan, seperti:
-
Salat Zuhur berjamaah disertai kultum (kuliah tujuh menit) bagi siswa Muslim.
-
Kegiatan keagamaan lintas keyakinan untuk siswa non-Muslim, seperti retreat atau meditasi.
-
Pembiasaan sikap santun, seperti mengucapkan salam, menghormati guru, dan membantu teman yang kesulitan.
“Kegiatan semacam ini efektif menciptakan iklim sekolah yang inklusif, di mana siswa dari berbagai latar belakang merasa setara dan saling menghargai,” tambahnya.
Strategi Praktis Membangun Karakter di Sekolah
Sebagai anggota Dewan Pendidikan Kota Solo, Prof. Peni memberikan beberapa rekomendasi konkret untuk memperkuat pendidikan karakter di sekolah:
-
Integrasi Nilai Karakter dalam Setiap Mata Pelajaran
-
Guru tidak hanya mengajarkan materi, tetapi juga menyisipkan nilai-nilai moral.
-
-
Pembiasaan Kegiatan Sosial
-
Siswa diajak terlibat dalam aksi nyata, seperti bakti sosial, kunjungan ke panti asuhan, atau program peduli bencana alam.
-
-
Penguatan Ekstrakurikuler Berbasis Karakter
-
Kegiatan seperti teater, debat, atau pramuka dapat melatih kerja sama, kepemimpinan, dan empati.
-
-
Kolaborasi dengan Orang Tua dan Masyarakat
-
Sekolah perlu bersinergi dengan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang konsisten dalam penanaman nilai-nilai baik.
-
Menghindari Arogansi dan Kesenjangan Sosial
Prof. Peni juga mengingatkan bahaya mentalitas superior di kalangan siswa berprestasi. Tanpa pendidikan karakter, mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang sombong dan egois.
Salah satu solusinya adalah dengan membaurkan siswa dari berbagai jurusan dan latar belakang dalam kegiatan non-akademik, seperti pentas seni atau olahraga. Ini akan memupuk rasa kebersamaan dan mengurangi kesenjangan sosial.
Penutup: Pendidikan Karakter adalah Investasi Masa Depan
Prof. Peni menutup dengan pesan bahwa pendidikan karakter bukan sekadar program tambahan, melainkan investasi jangka panjang bagi bangsa.
“Generasi yang berkarakter kuat adalah generasi yang mampu membawa Indonesia ke puncak kejayaan. Mereka tidak hanya pintar, tetapi juga bijaksana, berempati, dan bertanggung jawab. Inilah generasi emas yang kita idamkan,” pungkasnya.
Dengan komitmen bersama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat, pendidikan karakter dapat menjadi pondasi kokoh untuk melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berhati mulia.





