Nasib Pilu Monumen Gesang: Terkubur Ilalang di Balik Kemegahan Solo Safari
Surakarta- Di balik kemeriahan dan kesan modern kawasan wisata Solo Safari, tersembunyi sebuah situs yang menyimpan kenangan akan legenda musik Indonesia. Monumen Gesang, yang didirikan untuk menghormati pencipta lagu abadi “Bengawan Solo” itu, kini dalam kondisi yang memilukan. Monumen tersebut terbengkalai, tak terawat, dan seolah menjadi kenangan yang ikut terkubur oleh waktu.

Baca Juga : Solo Gelar Segudang Acara Budaya Akhir September 2025
Jika berkunjung ke Solo Safari, pengunjung tidak akan serta-merta dapat menemukan monumen ini
Patung setengah badan Gesang itu bersembunyi di pojok paling ujung, di area akses keluar kawasan wisata. Untuk mencapainya, pengunjung harus berkeliling lebih dulu melihat berbagai satwa, atau bagi yang menaiki buggy car, mereka akan melintasinya di ujung jalur. Pejalan kaki pun sering kali memilih memotong jalan melalui danau buatan, membuat monumen ini semakin terasing dan tak tersentuh.
Keadaan di lokasi sungguh memprihatinkan. Monumen itu dikepung oleh rumput ilalang yang tumbuh subur, menjulang tinggi hingga hampir menutupi seluruh pandangan. Yang tersisa hanyalah patung Gesang yang diam membisu, menyaksikan hiruk-pikuk wisatawan yang lalu lalang tanpa menyadari keberadaannya. Kontras sekali dengan suasana di sekitarnya yang terawat rapi.
Padahal, dahulu sebelum bertransformasi menjadi Solo Safari, saat tempat ini masih bernama Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ), Monumen Gesang mudah diakses dan menjadi salah satu spot yang dikunjungi. Posisinya terbuka, sejajar dengan lapak-lapak pedagang yang ramai. Kini, ia bagai diasingkan di tanahnya sendiri, di tepian Bengawan Solo yang melankolis, persis seperti nuansa lagu ciptaannya.
Revitalisasi yang Terus Menguap Menunggu Angin CSR
Pihak pengelola Solo Safari, Yustinus Sutrisno, mengakui kondisi ini. Dalam penjelasannya, nasib revitalisasi Monumen Gesang tergantung pada ketersediaan dana Corporate Social Responsibility (CSR). Pengerjaan monumen ini masuk dalam rencana pembangunan tahap ketiga.
“Monumen Gesang sudah masuk dalam perencanaan. Kami masih menunggu dana CSR untuk bisa memulai pembangunan di tahap tiga ini,” ujar Trisno
Ia menambahkan bahwa pada tahapan ketiga nanti, pihaknya akan lebih memusatkan perhatian pada Monumen Gesang. Meski begitu, masih ada area lain seperti kolam keceh dan Bengawan Solo Park yang juga menunggu untuk ditangani, yang masih melibatkan kerja sama dengan pihak lain.
Harapan untuk membangkitkan kembali kejayaan monumen itu sebenarnya sudah ada bentuknya. Pihak manajemen mengklaim telah menyiapkan gambar dan Detail Engineering Design (DED) untuk revitalisasi, yang bahkan sudah diajukan dan diapresiasi oleh Komisi 4 DPRD Kota Solo.
Namun, tanpa realisasi dana, semua rencana dan desain itu masih menjadi sekumpulan kertas dan janji. Monumen Gesang pun tetap menunggu, bagai notasi musik yang tertunda, berharap suatu saat nanti ada yang mau menyanyikan lagu kebangkitannya kembali. Sementara itu, ilalang terus tumbuh, dan kenangan akan sang maestro terus memudar ditelan zaman.





