Semarakkan Budaya dan Ekonomi, Kepatihan Solo Art 2025 Dibuka dengan Kirab Meriah Umbul Donga
Surakarta- Suasana malam di Lapangan Joyonegaran, Kepatihan Kulon, Jebres, berubah menjadi hamparan cahaya dan warna-warni budaya. Ribuan pasang mata menyaksikan dengan khidmat dibukanya Kepatihan Solo Art (KSA) 2025 secara resmi melalui prosesi Kirab Budaya Umbul Donga pada Minggu (21/9/2025) malam. Acara yang mengusung semangat kegotongroyongan warga ini bukan sekadar pesta rakyat, melainkan sebuah pernyataan hidup akan lestarinya tradisi Jawa di tengah denyut modernitas.

Baca Juga : Dua Legenda Dan Riak Ketenangan Misteri Umbul Kemanten Di Klaten
Prosesi Sakral dan Penuh Makna
Kirab budaya menjadi pembuka yang sempurna untuk rangkaian festival selama seminggu. Ratusan warga yang mengenakan pakaian adat Jawa dengan membawa obor menyala, membentuk barisan panjang yang bergerak perlahan dari Kantor Kelurahan Kepatihan Kulon menuju Lapangan Joyonegaran. Cahaya obor yang berkedip-kedip di kegelapan malam bagaikan simbol harapan dan semangat masyarakat yang tak pernah padam.
Kemeriahan iring-iringan kian terasa dengan kehadiran Ancak Sancaka, sebuah wadah yang sarat dengan hasil bumi dan palawija. Dengan penuh khidmat, ancak ini diusung oleh empat orang dan diapit payung tradisi keraton berwarna kuning dan hijau—lambang kemuliaan dan kesuburan. Prosesi ini adalah sebuah doa visual, sebuah simbol kemakmuran dan rasa syukur atas berkah yang telah diberikan.
Malam Doa dan Harapan untuk Solo
Sesampainya di lapangan, suasana berubah menjadi sakral. Alunan gamelan yang menggema menyambut kedatangan para peserta kirab, diiringi penampilan gemulai para penari yang menghipnotis penonton. Setelah gending dan tembang Jawa dilantunkan, menandai dimulainya puncak acara yang paling mengharukan: doa bersama lintas agama.
Perwakilan dari umat Islam, Buddha, Katolik, dan Kristen bersama-sama memanjatkan doa untuk kelancaran dan kesuksesan acara, serta untuk kesejahteraan Kota Solo. Momen kebersamaan ini memperkuat pesan toleransi dan kerukunan yang menjadi napas kehidupan masyarakat Solo.
Sebagai puncak simbolisasi, sekitar empat ekor burung merpati putih dilepaskan ke angkasa. Pelepasan burung ini bukan hanya pertunjukan visual yang indah, tetapi juga mewakili doa dan harapan kolektif warga agar semua cita-cita dan program pembangunan di Kelurahan Kepatihan Kulon dapat terbang tinggi dan mencapai tujuan yang lebih baik.
Gotong Royong, Kekuatan Utama di Balik Pesta Rakyat
Dalam sambutannya, Ketua KSA, Bejo Mulyono, dengan bangga menekankan bahwa event tahunan ini adalah buah karya dan semangat gotong royong masyarakat. Semua persiapan, mulai dari dekorasi, persiapan panggung, hingga logistik, dilakukan secara mandiri dan swadaya oleh warga.
“Ini adalah hari pertama pembukaan untuk event yang ketiga kalinya dan akan berlangsung hingga 27 September. Semua ini adalah hasil jerih payah dan kerjasama masyarakat Kelurahan Kepatihan. Rata-rata dana yang kami kelola untuk menyelenggarakan KSA adalah Rp 50 juta, dan kami berharap tahun depan bisa lebih meriah lagi dengan adanya tambahan dukungan dana,” ujar Bejo penuh harap.
Beliau juga mengungkapkan bahwa kesenian Ketoprak akan menjadi puncak penutup rangkaian acara, menegaskan komitmen KSA sebagai garda depan pelestarian budaya Jawa.
Lebih dari Sekadar Festival: Penggerak Ekonomi dan Pendidikan Budaya
KSA 2025 memiliki misi ganda yang kuat. Selain sebagai ajang pelestarian budaya, festival ini juga dirancang untuk menggerakkan roda perekonomian warga. Puluhan pelaku UMKM lokal, terutama di bidang kuliner, diberikan ruang untuk berjualan melalui tenant yang telah disediakan. Gelar UMKM & Potensi Budaya ini akan dibuka setiap hari mulai pukul 16.00 WIB, menawarkan beragam produk kreatif dan cita rasa khas Solo.
Yang tak kalah penting adalah keterlibatan generasi muda. Tari Gambyong yang ditampilkan oleh anak-anak setempat menjadi bukti nyata upaya menanamkan kecintaan pada budaya sejak dini. Melalui partisipasi ini, nilai-nilai tradisi diwariskan bukan sebagai hafalan, tetapi sebagai pengalaman yang menyenangkan dan membanggakan.
Dukungan Penuh Pemerintah
Keberhasilan KSA didukung penuh oleh pemerintah setempat. Sekretaris Kecamatan Jebres, Lanang Aji Laksito, yang hadir dalam acara, menyampaikan apresiasi yang mendalam. Menurutnya, acara ini adalah bentuk doa bersama agar seluruh program di kelurahan dapat berjalan lancar.
“Dukungan ini terbukti dengan semakin banyak dan berkembangnya UMKM yang ada di wilayah ini dari tahun ke tahun. KSA adalah bukti nyata bahwa budaya dan ekonomi dapat berjalan beriringan,” tegas Lanang Aji.
Jangan Lewatkan Rangkaian Acaranya!
KSA 2025 akan berlangsung hingga 27 September 2025 di Lapangan Joyonegaran. Setiap hari, pengunjung dapat menikmati kuliner dan produk UMKM mulai pukul 16.00 WIB. Puncak acara akan ditutup dengan meriah pada 27 September 2025 pukul 19.00 WIB dengan Pagelaran Ketoprak Srandul “Joko Berek” yang pasti sayang untuk dilewatkan.
Mari ramaikan Kepatihan Solo Art 2025! Nikmati warisan budayanya, dukung produk lokalnya, dan saksikan sendiri betapa hidupnya tradisi Jawa di kota kita tercinta.
Jangan Lewatkan Rangkaian Acaranya!
KSA 2025 akan berlangsung hingga 27 September 2025 di Lapangan Joyonegaran. Setiap hari, pengunjung dapat menikmati kuliner dan produk UMKM mulai pukul 16.00 WIB.
Meriahnya Gelaran UMKM dan Pertunjukan Budaya
Selanjutnya, pengunjung dapat menjelajahi berbagai tenant UMKM yang telah berjejer rapi. Di sini, puluhan pelaku usaha lokal menawarkan aneka produk, mulai dari kerajinan tangan hingga kuliner tradisional yang mengugah selera. Bau harum sate dan wedang ronde langsung menyambut para pengunjung yang datang, sehingga menciptakan suasana yang hangat dan bersahabat.
Tak hanya itu, setiap malamnya, panggung utama Lapangan Joyonegaran akan menghadirkan maraton pertunjukan budaya.
Menyambut Puncak Acara: Ketoprak Joko Berek
Menuju akhir pekan, antusiasme masyarakat terus meninggi. Persiapan untuk pagelaran ketoprak pun memasuki tahap akhir. Para seniman dan kru secara intensif melakukan gladi bersih untuk memastikan pertunjukan penutup ini berjalan sempurna. Mereka berkomitmen untuk menyajikan sebuah cerita yang bukan hanya menghibur, tetapi juga mengandung nilai-nilai kearifan lokal Jawa.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya datang untuk menonton, melainkan juga untuk memberikan dukungan penuh terhadap kelestarian seni tradisi yang semakin langka.
Dampak Positif bagi Masyarakat dan Masa Depan KSA
Secara keseluruhan, festival ini telah membuktikan diri sebagai penggerak ekonomi kreatif yang nyata. Berkat gelaran ini, omzet para pedagang UMKM mengalami peningkatan yang signifikan. Bahkan, banyak pelaku usaha yang menerima pesanan dalam jumlah besar, yang pada akhirnya memberikan dampak ekonomi berkelanjutan pasca-acara.
Kedepannya, panitia dan warga berharap KSA dapat tumbuh lebih besar. Mereka membayangkan event ini bisa menjadi agenda budaya nasional yang mampu menarik wisatawan dari luar kota dan mancanegara. Dengan kata lain, semangat gotong royong yang menjadi fondasi acara ini akan terus menjadi kekuatan untuk memajukan budaya dan perekonomian warga Kepatihan Kulon.





