Akhir Sebuah Era: Hotel Legendaris Agas Solo Dilego Rp 120 Miliar Setelah 29 Tahun Berdiri
Surakarta- Sebuah babak penting dalam sejarah perhotelan dan kenangan warga Kota Solo sedang akan berakhir. Hotel Agas, salah satu pionir hotel berbintang di jantung Jawa Tengah ini, resmi dijual dengan harga Rp 120 miliar. Hotel yang telah menjadi saksi bisu perkembangan kota selama 29 tahun ini menutup operasionalnya, meninggalkan cerita dan nostalgia bagi banyak orang.

Baca Juga : Hasanuddin: Tugas TNI Bertambah, Jaga Ketahanan Siber dan Narkoba
Dikutip dari listing properti terpercaya, aset legendaris ini ditawarkan dengan luas tanah mencapai 7.224 meter persegi dan memiliki 66 kamar. Penawaran ini menjadi sinyal akhir dari perjalanan panjang sebuah hotel yang pernah menjadi kebanggaan masyarakat Solo.
Dari Masa Kejayaan ke Titik Nadir
Berdiri megah sejak tahun 1996, Hotel Agas bersama Kusuma Sahid dan Cokro menjadi trio pelopor industri hospitalitas modern di Solo. Lokasinya yang strategis menjadi nilai jual utama. Namun, nasib berubah drastis dengan pembangunan Flyover Manahan.
Ariyanto, seorang karyawan yang telah mengabdi selama 25 tahun atau hampir sejak hotel ini pertama kali dibuka, mengonfirmasi kabar penjualan tersebut. “Iya, baru dipasang sekitar seminggu yang lalu,” ujarnya dengan nada haru. Ia mengakui bahwa kehadiran flyover tersebut secara perlahan mencekik akses dan daya tarik visual hotel. “Hunian mulai mengalami penurunan, padahal sebelumnya sempat ramai,” kenangnya.
Titik balik terberat terjadi pada awal tahun 2024, ketika sang pemilik meninggal dunia. Tragedi ini memicu ketidakstabilan manajemen internal. “Manajemen yang mengurus beda pendapat. Akhirnya bulan Februari kami di-PHK massal, dapat pesangon juga,” jelas Ariyanto, yang menyatakan kekecewaan dan rasa sayangnya yang mendalam. Baginya, Hotel Agas bukan sekadar tempat kerja, melainkan bagian dari hidup dan sejarah kota.
Kini, dari seluruh fasilitas hotel, hanya kolam renangnya saja yang masih beroperasi, seakan menjadi penghibur terakhir bagi kenangan yang telah lalu.
Analisis Pakar: Kombinasi Faktor Internal dan Eksternal
Wening Damayanti, Humas PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) Solo, memberikan perspektif yang lebih komprehensif. Menurutnya, masalah Hotel Agas sudah berlangsung sebelum pandemi COVID-19 melanda.
“Bahkan sebelum COVID pun sudah ada penurunan. Kami melihatnya dari penurunan harga kamar yang cukup signifikan. Itu menjadi analisa kami, mereka berusaha survive dengan mengejar volume, tetapi operasional tetap tidak bisa berjalan dengan baik,” papar Wening.
Flyover Manahan, dalam analisa PHRI, menjadi pukulan terakhir yang memperberat kondisi operasional. “Kendala-kendala operasional ini diperburuk dengan kondisinya yang tertutup oleh flyover. Akses depan yang menghadap flyover menjadi tidak menarik, sehingga harus dialihkan ke pintu belakang. Hal ini tentu sangat menyulitkan dan membingungkan bagi tamu,” jelasnya.
Sebuah Lahan Penuh Kenangan Menanti Babak Baru
Penjualan Hotel Agas bukan hanya tentang transaksi properti senilai ratusan miliar rupiah. Ini adalah tentang penutupan sebuah era kenangan bagi generasi yang menyaksikan kota ini tumbuh. Bagi para pebisnis, ini adalah peluang untuk mengolah sebuah lahan strategis seluas 7 hektar lebih yang sarat dengan historis.
Pertanyaan besarnya kini adalah: akankah bangunan ikonik ini dihancurkan untuk memberi jalan bagi properti modern, atau akankah investor baru melihat nilai nostalgia yang melekat padanya dan mengembalikan kejayaannya dengan wajah yang segar? Semuanya kini bergantung pada siapa yang akan memegang tongkat estafet dan menorehkan babak baru untuk sepetak tanah yang penuh cerita di Kota Solo.





